Sunday, April 17, 2016
Monday, April 11, 2016
Monday, March 9, 2015
Friday, February 13, 2015
Biografi Almarhum TGNA
Biodata Almarhum Dato’ Bentara Setia Tuan Guru Haji Nik Abdul Aziz Nik Mat
Nama : Nik Abdul Aziz bin Nik Mat
Tarikh Lahir: 1931
Tempat lahir : Kampung Pulau Melaka,Kelantan.
Pengajian :
1-Pondok Tuan Guru Hj Abbas, Besut
2-Universiti Deoband India
3-Universiti Lahore Pakistan
4-Universiti Al Azhar
5-Sarjana Muda bahasa Arab
6-Sarjana Perundangan Islam
Tuan Guru Dato’ Nik Abdul Aziz Nik Mat dilahirkan dalam sebuah keluarga yang sangat kuat berpegang kepada ajaran Islam di Kampung Pulau Melaka, Kota Bharu, Kelantan pada tahun 1931.
Bapanya, Haji Nik Mat bin Raja Banjar bin Raja Abdullah bin Raja Mamat merupakan keturunan Raja Jembal. Bapanya lebih dikenali dengan panggilan Tuan Guru Nik Mat Alim disebabkan beliau arif dalam ilmu-ilmu agama. Beliau terkenal di Kelantan dalam mengendalikan institusi pengajian pondok di Kampung Kedai Lalat.
Di situlah Nik Abdul Aziz mendapat pendidikan awal bersama ratusan pelajar Islam dari segenap ceruk rantau Asia Tenggara. Sejak kecil beliau mempelajari dan mendalami kitab-kitab agama yang muktabar dari Almarhum ayahandanya serta belajar menulis daripada ibunya Hajah Aminah Majid.
Sewaktu usia 9 tahun, Nik Abdul Aziz dihantar berguru dengan Tuan Guru Haji Abas Mohamad di pondok Madrasah Ittifaqiyah, Jertih, Besut, Terengganu. Tuan Guru menuntut ilmu di situ selama setahun sehingga peperangan Jepun berlaku dan pengajian dihentikan buat seketika.
Pada masa ini juga, Tuan Guru berulang alik ke Kampung Sirih, berguru dengan Tok Khurasan dan belajar dengan Tuan Guru Ali Pulau Pisang dalam mata pelajaran Nahu dan Tuan Guru Dato’ Muhamad Nur Ibrahim (bekas Mufti Kelantan) dalam pelajaran Fekah. Setelah perang tamat Tuan Guru menyambung kembali pelajaran secara formal di Ittifaqiyah.
Walaupun usia Tuan Guru masih muda tetapi beliau dapat menguasai kitab Asmuni (sebuah kitab nahu yang agak tinggi) setanding dengan murid-murid yang lebih tua.
Pada tahun 1945 beliau menyambung pelajaran di Jamek Merbawi Al-Ismaili, Kota Bharu hingga 1952. Beliau menyambung pelajaran ke Universiti Darul Ulum di Deoban, India, mendalami ilmu Fekah, Usul Fekah, Tafsir al-Qur’an, Hadis dan lain-lain.
Ketika di India beliau juga telah berguru dengan Sheik al-Hadith dan guru Tarikat yang terkemuka di India iaitu Maulana Mohamad Ahmad Al-Madani dengan mendapat ijazah. Maulana Mohamad seorang pejuang kemerdekaan India yang pertama dan pernah di penjara semasa penjajahan Inggeris.
Pada 1957 beliau menyambung pelajaran ke Pakistan dalam bidang Tafsir. Pada 1958 menyambung pelajaran di Kuliyatul Lughah di Al-Azhar, Mesir dan memperolehi ijazah sarjana muda dalam jurusan pengajian bahasa Arab kemudian menyambung pelajaran sehingga mendapat ijazah sarjana (M.A) dalam jurusan kehakiman dan perundangan Islam selama 2 tahun. Kemudian beliau mendapat diploma pendidikan di Darul Azhar dan pulang ke tanahair Februari 1962.
Perkhidmatan :
Pada 1962 beliau membuka sekolah dengan menggunakan tanah wakaf yang diberi oleh ibu saudara Hajah Kalthom iaitu Sekolah Menengah Ugama Darul Ulum, Pulau Melaka di sebelah petang dan sebelah pagi beliau berkhidmat di Sekolah Menengah Agama Tarbiatul Mardhiyah, Panchor, Kemumin. Pada sebelah malam beliau menjadi guru dan penyelia di sekolah dewasa selama 2 tahun.
Pada 1 Januari 1964 beliau meletakkan jawatan dan berkhidmat di Ma’had Muhammadi, Jalan Merbau, Kota Bharu.
Tanggal 12 Februari 2015 perginya sebutir mutiara menemui Allah swt untuk selama-lamanya di Pulau Melaka dalam usia 84 tahun. Moga roh arwah dicucuri rahmat.
Sunday, February 8, 2015
8 Perkara Yang Perlu Dielakkan Dalam Mendidik Anak
1. Pernyataan Negatif tentang Diri Anak “Kamu anak nakal!” “Kamu pemalas!” “Kamu anak pelit!” “Kamu anak bodoh!” Contoh pernyataan negatif tersebut dapat menyakiti perasaan anak-anak. Mereka akan menjadi seperti yang orang tua mereka katakan. Sungguh berbahaya, mengingat kata-kata seorang ibu bisa berarti doa untuk anak-anaknya.
Perkatakan hal-hal positif kepada anak. Misalnya jika anak menerima nilai buruk, jangan mengatakan, “Kamu anak bodoh!”; Katakanlah sesuatu yang lain. Sebagai contoh, katakanlah, “Jika kamu belajar lebih baik, kamu akan mendapatkan nilai yang lebih baik karena kamu sebetulnya adalah anak pintar.” Bukankah kata-kata seperti ini akan lebih menenangkan hati anak kita?
2. Jangan katakan “Jangan Ganggu, Ibu lagi Sibuk!” Kata-kata tersebut terdengar sangat normal. Seorang ibu sibuk memasak di rumahnya. Atau ayah sibuk membaca berita menarik di koran. Atau mungkin juga melanjutkan tugas yang dibawa dari kantor. Lalu ia mengunci diri di kamarnya. Tiba-tiba anak datang dan meminta dia untuk sebuah bantuan. Dalam situasi yang ketat, orang tua dapat berteriak pada anak itu, “Jangan ganggu! Ayah/Ibu lagi sibuk! ”
Menurut seorang penulis yang juga seorang pelatih bela diri verbal, Suzette Haden Elgin PhD, jika orang tua bertindak seperti itu, anak-anak mungkin merasa tidak berarti karena jika mereka meminta sesuatu pada orang tua mereka, mereka akan diberitahu untuk pergi. Coba bayangkan, jika sikap seperti itu diterapkan pada anak-anak kita, maka sampai mereka tumbuh dewasa, kemungkinan besar mereka akan merasa tidak ada gunanya berbicara dengan orangtua.
Jika memang sedang benar-benar sibuk, cobalah alihkan perhatian anak-anak untuk melakukan kegiatan lain sebelum kita membantu mereka. Misalnya, jika mereka meminta bantuan dalam melakukan pekerjaan rumah mereka dan kondisinya kita sedang benar-benar sibuk, mintalah mereka untuk melakukan aktivitas lain terlebih dahulu seperti bermain atau nonton tv. Jika kesibukan sudah berlalu, datangilah anak anda dan tanyakan dengan lembut bantuan apa yang mereka perlukan.
3. Jangan katakan “Jangan Menangis!” Ketika anak-anak menangis atau bersedih ketika bertengkar dengan teman-temannya. Tidak perlu untuk memarahi atau meminta anak-anak anda untuk tidak cengeng. Banyak anak yang mengalami hal tersebut, orang tua mengatakan pada mereka, “Jangan cengeng!”, “Jangan sedih!”, “Jangan takut!” Menurut seorang psikolog anak, Debbie Glasser, mengatakan kata-kata tersebut akan mengajarkan anak-anak bahwa perasaan sedih adalah sesuatu hal yang tidak umum, bahwa menangis bukanlah hal yang baik, padahal menangis adalah merupakan ekspresi dari emosi tertentu yang setiap manusia miliki.
Untuk menanggapinya, akan lebih baik untuk meminta anak-anak menjelaskan apa yang membuat mereka sedih. Jika mereka merasa diperlakukan tidak adil oleh teman-teman mereka, jelaskan pada mereka bahwa perilaku teman-teman mereka adalah tidak baik, jangan dicontoh. Dengan memberikan penjelasan seperti itu orang tua telah memberikan mereka pelajaran empati. Anak-anak yang menangis akan segera menghentikan atau setidaknya mengurangi tangisan mereka.
4. Jangan Membanding-bandingkan Anak “Lihatlah temanmu, dia bisa melakukannya dengan cepat. Mengapa kamu tidak bisa melakukannya juga?” “Temanmu bisa menggambar dengan bagus, kenapa kamu tidak?” “Dulu ketika kecil ibu bisa begini begitu, masa kamu tidak bisa?!” Membanding-bandingkan hanya akan membuat anak anda merasa bingung dan menjadi kurang percaya diri. Anak-anak bahkan mungkin membenci orang tua mereka karena mereka selalu mendapatkan penilaian buruk dari perbandingan tersebut, sedangkan perkembangan setiap anak berbeda.
Daripada membandingkan, orang tua sebaiknya membantu untuk menyelesaikan persoalannya. Misalnya, ketika anak mengalami masalah mengenakan pakaian mereka sementara teman atau tetangganya yang seusia dengannya bisa melakukannya lebih cepat, orang tua harus membantu mereka untuk melakukannya secara benar.
5. Jangan katakan “Tunggu Ayah Pulang! Biar kamu dihukum ayah” Adakalanya seorang ibu berada di rumah bersama anak-anaknya sementara ayah tidak berada di rumah. Ketika anak melakukan kesalahan, ibu tidak segera memberitahu anak-anak tentang kesalahan yang mereka buat. Si ibu hanya mengatakan, “Tunggu sampai ayahmu pulang.” Ini berarti menunggu sampai ayahnya yang akan menghukum nanti.
Menunda mengatakan kesalahan hanya akan memperburuk keadaan. Ada kemungkinan bahwa ketika seorang ibu menceritakan kembali kesalahan yang dilakukan anak-anak mereka, ibu malah membesar-besarkan sehingga anak-anak menerima hukuman yang lebih dari seharusnya. Ada kemungkinan juga orang tua menjadi lupa kesalahan anak-anak mereka, sehingga kesalahan yang seharusnya dikoreksi terabaikan. Oleh karena itu, akan lebih baik untuk tidak menunda dalam mengoreksi kesalahan yang dilakukan anak-anak sebelum menjadi lupa sama sekali, dan koreksilah dengan cara bijaksana melalui nasihat yang bijak.
6. Jangan Terlalu mudah dan berlebihan memberi pujian Memberikan pujian dengan mudah juga bukan hal yang baik. Memberikan pujian dengan mudah akan terkesan “murah”. Oleh karena itu jika seorang anak melakukan sesuatu yang sederhana, tidak perlu memuji dengan “Kamu Hebat! Luar Biasa!” Karena anak secara alamiah akan mengetahui hal-hal yang dia lakukan dengan biasa-biasa saja atau luar biasa.
Pujilah sikap anak kita, dan jangan memuji dirinya atau hasil perbuatannya. Sekiranya ia mendapat hasil bagus di sekolah, pujilah “Alhamdulillaah, Ibu bangga dengan kerja keras kamu sehingga kamu mendapat nilai baik!” Jika kita memuji hasil yang dilakukan anak dan bukan sikapnya, sangat mungkin anak kita akan berfokus pada hasil dan tidak peduli dengan sikap/ karakter yang baik, misalnya… demi mendapat nilai ujian bagus, anak akan mencontek ketika ujian.
7. Jangan Katakan “Kamu tidak pernah..” atau “Kamu Selalu..” Kalimat lain yang tidak perlu dilontarkan adalah "Kamu selalu...." atau "Kamu tidak pernah...". Kalimat tersebut kadang refleks diucapkan orangtua ketika merasa kesal dengan kebiasaan kurang baik yang sering dilakukan anaknya.
"Hati-hati, kedua kata-kata itu ada makna di dalamnya. Di dalam pernyataan "Kamu selalu..." dan "Kamu tidak pernah" adalah label yang bisa melekat selamanya di dalam diri anak," ujar Jenn Berman PhD, seorang psikoterapis.
Kedua pernyataan yang dilontarkan oleh orang tua tadi akan membentuk kepribadian anak. Anak-anak akan menjadi seperti apa yang dikatakan terhadap dirinya.
Lebih baik bertanyalah kepada anak tentang apa yang bisa orangtua lakukan untuk membantu dia mengubah kebiasaannya. Misalnya, 'Ibu perhatikan kamu sering lupa membawa pulang buku pelajaran ke rumah. Apa yang bisa Ibu bantu supaya kamu ingat untuk membawa bukumu pulang?'. Pernyataan seperti itu akan membuat anak merasa terbantu dan nyaman.
8. Jangan katakan “Bukan begitu caranya, sini biar ibu saja!” Jangan katakan "Bukan begitu caranya. Sini, biar Ibu saja." Biasanya orangtua mengeluarkan pernyataan ini jika mereka meminta anak membantu sebuah pekerjaan, namun anak tidak melakukannya dengan benar.
Jenn Berman, PhD memberi saran "Ini sebuah kesalahan, karena anak menjadi tidak belajar bagaimana caranya. Daripada berkata demikian, lebih baik ibu melakukan langkah kolaboratif dengan mengajak anak melakukan pekerjaan itu bersama sambil ibu menjelaskan bagaimana cara melakukannya,".(ummi) Rujukan : Website
Tuesday, February 3, 2015
Sunday, November 2, 2014
Wajib Baca ! Akhirat dan Dunia
Dulu masa saya kecik-kecik, saya selalu dapat no 1 dalam kelas tadika dan sekolah rendah...
Semua orang puji saya dan ibu saya akan gembira dan peluk cium saya....
Dulu saya dapat 5A UPSR...
Semua orang puji saya dan ibu saya akan gembira dan peluk cium saya....
Dulu saya dapat tawaran masuk MRSM..
.
Semua orang puji saya dan ibu saya akan gembira dan peluk cium saya...
Dulu saya dapat 8A dalam PMR...
Semua orang puji saya dan ibu saya akan gembira dan peluk cium saya....
Dulu saya dapat tawaran buat kursus medic kat Indonesia...
Semua orang puji saya dan ibu saya akan gembira dan peluk cium saya....
Tapi bila saya buang semua keduniaan itu dan berikrar untuk turut berjuang menjadi kebanggaan Rasulullah, saya bawa beg dan merantau ke seluruh dunia, saya berhenti di Afrika untuk belajar ilmu agama, dan balik ke Malaysia dengan kesan-kesan Sunnah Rasulullah di badan saya...
Semua orang mencemuh dan memandang rendah kepada saya....
"Ada ke patut budak lulusan MRSM masuk pondok? Dah la sijil tak diiktiraf, belajar jauh-jauh sampai Afrika pulak tu? Nanti nak makan apa? Bodohnya... Memalukan mak bapak, peluang besar jadi orang besar dilepaskan pulak..."
Kata mereka....
Tapi...
Pada suatu Subuh...
Saya pergi ke masjid bersama ibu saya di mana saya merupakan imam di masjid itu...
Saya bacakan surah Abasa...
Dan sebak ketika sampai ayat:
Yaumayafirrul mar'umin akhih.....
Wa ummihi...wa Abih....
Selesai solat, semasa perjalanan pulang...
Ibu bertanya kenapa saya sebak ketika sampai di ayat itu?
Saya jelaskan....
Ayat itu menceritakan tentang huru hara mahsyar sehinggakan seorang insan itu akan lari daripada saudaranya...
Ibunya...
Ayahnya....
Isterinya...
Anak-anaknya...
Saya katakan...
Di dunia ini, bila kita jadi kaya, orang puji kononnya kita berjaya...
Bila kita gunakan dunia untuk mengejar akhirat, orang akan kata kita gila...
Sedangkan di mahsyar nanti, semua "kata-kata orang" tu langsung tak bernilai kerana ibu, bapa, anak, isteri, saudara yang di dunia ni sangat rapat dengan kita pun, kelak di mahsyar mereka akan saling melarikan diri daripada berjumpa kerana takut dituntut......
Maka saya sebak kerana saya risaukan apa keadaan saya di mahsyar kelak...
Pujian orang ramai selama berbelas-belas tahun tu langsung tak bagi manfaat pada saya...
Kejian selama bertahun-tahun kerana mengorbankan dunia demi agama juga tak bagi mudarat pada saya...
Lalu kenapa manusia masih mengejar pujian orang ramai dan takut dengan celaan mereka?
Ibu sekali lagi memeluk saya, tersenyum sambil menangis dan berkata....
"Sejuk perut mama dapat anak macam bangcik..."
Maka itulah kali pertama dalam hidupku saya berasa sangat gembira akan "pujian" ibuku...
Pelbagai pencapaian demi pencapaian yang saya dapat DULU, saya tidak pernah merasa gembira seperti ini walaupun dulu juga saya dipeluk cium ibu dan dipuji....
Wahai hamba Allah...
Apa sebenarnya yang kalian kejar?
Apa pula sebenarnya yang kejar kalian?
Mengapa kalian masih mengejar pujian sia-sia manusia...
Sedangkan malaikat maut pula tidak pernah lelah siang malam mengejar kalian?
Wahai saudaraku...
Apakah kalian sedar nafas kalian hanya berbaki beberapa lagi?
Sebelum lubang kubur kalian akan digali?
Apa yang aku dan kalian ada.. untuk Allah dan Rasul bangga?
*self-reminder*
Masalah KITA yg masih bernyawa ni....dah ambik bekal kah belum...atau masih leka dengan mainan2 sekeliling kita.....
Bak kata kalam saiyidina Ali r.a...."Hidup di dunia ini ramai yg terlena, akhirat nanti baru terjaga."
Jangan kita masuk dalam golongan yg "ramai" tu....sebab yg ramai tu kononnya 'normallah' di akhir zaman ni...
Masuklah dlm golongan yg sedikit...sbb yg sedikit itu akan masuk syurga...selama2nya... "pesanan utk KITA...saya sekali yg banyak dosa ni"
sgt memberi keinsafan
Sebarknlah,xperlu nk sebar ke 20 org,40 org mahupn 100 org.
Sebar je seikhlas hati demi secubit keinsafan diri. . .
copy dari group whatsapp
Tuesday, October 28, 2014
PERISTIWA HIJRAH III
Sememangnya penghijrahan nabi Muhammad SAW dan pengikut baginda ke Madinah merupakan suatu peristiwa yang cukup besar dan bermakna dalam perkembangan Islam. Selama 13 tahun baginda dan orang-orang Islam dihina, disiksa dan dipulaukan oleh kaum Quraisy. Kita tidak lupa dengan tragedi yang berlaku ke atas Sumaiyyah dan keluarga, Bilal b Rabah yang disiksa dengan meletakkan batu bear di atas perut di tengah panas. (Sesiapa yang pernah ke tanah haram pasti merasai betapa panasnya cuaca di sana). Namun ini tidak melunturkan Rasulullah SAW untuk menyebarkan kalimah tauhid kepada orang Quraisy. Sambutan yang menggalakkan terutamanya dalam kalangan hamba abdi dan golongan yang tertindas membuatkan pembesar Quraisy menjadi berang. Oleh itu Umaiyah b Khalaf, Abu Lahab dan lain-lain telah bertindak dengan cukup ganas untuk mendera umat Islam yang nerupakan hamba sahaya mereka pada ketika itu.
Namun begitu, itu bukanlah alasan untuk menyebabkan penghijrahan mereka ke Madinah tetapi adalah atas titah daripada Allah swt melalui surah al-Anfal yang menjelaskan tentang niat orang kafir Quraisy dan telah berkomplot bersama-sama dengan puluhan pemuda daripada pelbagai suku untuk membunuh nabi Muhammad SAW. Tindakan itu diambil setelah mereka berputus asa dengan iltizam nabi Muhammad untuk teruskan usaha dakwah walapun ditawarkan dengan tiga Ta.
Umat ISlam sebenarnya telah berhijrah secara senyap-senyap ke Madinah. Mreka bergerak pada waktu malam. Antara kalangan sahabat baginda, Umar alKhattab adalah antara yang paling berani dengan mengisytiharkan keislamannya dan mencabar orang kafir Quraisy untuk menahan beliau daripada berhijrah ke Madinah. Sebetulnya orang Quraisy tidak berani berdepan dengan Umar kerana beliau merupakan orang yang cukup 'gedeber' sewaktu bersama-sama dengan orang Quraisy. Dan sikap itu terbawa-bawa sehingga beliau memeluk Islam.
bersambung....InsyaAllah
Monday, October 27, 2014
Peristiwa Hijrah II
Sambungan...
Tidak lama kemudian baginda Rasulullah saw telah didatangi sekumpulan penduduk Madinah daripada Bani Aus dan kazraj
Latar Belakang
Madinah sebelum berlakunya peristiwa hijrah dikenal sebagai Yathrib. Dikatakan bahawa bapa baginda Rasulullah saw telah wafat di kota Yathrib ketika baginda masih dalam kandungan ibu iaitu Aminah binti Wahab.Di Madinah, terdapat 3 golongan masyarakat iaitu kaum Arab yang terdiri daripada dua suku kaum iaitu Bani Aus dan Bani Kazraj. Kedua-duanya saling bermusuhan dan bertelingkah antara satu sama lain. Yang keduanya ialah Kaum Yahudi yang terdiri daripada Bani Quraizoh, Bani Nadir dan Bani Qunaiqa'. Kaum Yahudi telah menguasai segala aspek ekonomi di Madinah. yang ketiganya ialah kaum Nasrani dan mereka ini merupakan minoriti
Sememangnya Aus dan Kazraj ini banyak mendapat info tentang kenabian nabi ini daripada kaum Yahudi. Pengkisahan tentang kelahiran nabi di akhir zaman telah diriwayatkan melalui kitab Injil tentang kelahiran nabi akhir zaman iaitu dikenal sebagai Ahmad. Namun begitu kelahiran ini bukannya dalam kalangan kaum Yahudi tetapi kaum Arab. inilah yang menyebabkan mereka cuba untuk menyembunyikan kebenaran tentang kenabian dan kerasulan nabi Muhammad saw. Ciri-ciri fizikal, perawakan dan keperibadian memang diketahui oleh pendeta Yahudi. Sehinggakan mereka mengaku bahawa lebih mengenali nabi Muhammad saw berbanding anak mereka sendiri. Namun begitu perkara ini telah diketahui oleh orang Arab Aus dan Kazraj. Oleh itu mereka secara rahsia dan berasingan telah menghantar utusan seramai 12 orang ke Makkah pada tahun ke12 selepas kenabian untuk menemui insan yang telah diceritakan oleh orang Yahudi tersebut.
.
Masjid Nabawi di Kota Madinah al-Munawwarah
Apabila mereka sampai ke Makkah mereka telah melihat secara dekat insan yang bergelar Rasulullah dan sememangnay benar daripada apa yang diceritakan oleh Pendeta Yahudi melalui kitab mereka. Oleh itu tanpa berlengah lagi mereka telah menemui Rasulullah saw dan berjanji untuk beriman kepada Allah swt, mengaku taat setia kepada nabi Muhammad saw dan meninggalkan amalan jahiliyah yang mereka amalkan sebelum ini melalui Perjanjian Aqabah Pertama.
Sejurus itu Rasululullah saw telah mengutuskan Mus'ab b Umair untuk ke Yathrib bagi menyebarkan Islam dan menyampaikan dakwah kepada orang Arab di sana. Tahun berikutnya bani Aus dan Kazraj telah mengunjungi nabi sekali lagi untuk mengikat setia yang dikenal sebagai Perjanjian Aqabah kedua. Melalui Perjanjian ini orang Arab Madinah bersetuju untuk mengukuhkan lagi kesetiaan kepada nabi Muhammad saw, menjemput nabi Muhammad saw dan umat Islam Makkah ke Madinah serta sanggup memyediakan tempat tinggal di Madinah.
Secara jelasnya perjanjian Aqabah kedua ini adalah satu asas yang cukup kukuh untuk berlakunya hijrah ke Madinah. Hal ini suatu hujah yang cukup kuat untuk menolak momokan orientalis barat yang menuduh penghijrahan ke Madinah merupakan satu pelarian
bersambung...
Sunday, October 26, 2014
Peristiwa Hijrah
Hijrah dalam bahasa arab ialah berpindah. Namun dalam konteks Islam ialah perpindahan umat Islam dari Makkah ke Kota Madinah dengan tujuan untuk menyebarkan dan memperkukuhkan Islam. Hijrah itu juga suatu perubahan daripada kemunduran kepada kemajuan, daripada kesesatan kepada kebenaran dan pelbagai istilah yang digunakan sekarang.
Peristiwa hijrah yang membawa Nabi Muhammad saw serta pengikut baginda ke MAdinah adalah suatu rentetan kisah yang cukup hebat. Apatah lagi ruang berdakwah telah semakin sempit setelah kematian dua orang yang merupakan pendokong kuat baginda iaitu bapa saudara baginda Abu Talib dan isteri baginda yang tercinta iaitu saiditina Khadijah r.a.
Semenjak itu umat Islam mendapat tekanan yang sungguh hebat. Apatah lagi boikot atau pemulauan yang dilakukan oleh orang Arab Quraisy terhadap keluarga Bani Hashim. Kita sedia maklum bahawa bani Hashim ini bukan semuanya Islam tetapi telah dipulau sama ada dalam hal ehwal jual beli, perkahwinan, serta urusan lain-lain. Namun begitu tempoh pemulauan tidak lama apabila surat pengumuman boikot itu telah musnah dimakan anai-anai yang telah digantung di dinding kaabah.
Tidak lama kemudian nabi Muhammad saw bersama dengan Zaid b. Harithah iaitu anak angkat baginda telah keluar ke Taif untuk menyebarkan agama yang suci ini. Namun begitu masyarakat di sana bukan sahaja tidak menerima malah membaling batu sehingga mencederakan baginda. Peristiwa ini telah menarik perhatian Jibrail untuk meminta izin daripada Rasulullah saw bagi menghukum masyarakat Taif. Namun dengan sifat kemuliaan baginda yang mengharapkan generasi mereka seterusnya akan menerima ajaran Islam maka hasrat Jibrail itu tidak terlaksana. Lihatlah betapa mulianya baginda serta mempunyai wawasan yang tinggi terhadap masa depan agama yang disebarkan ini.
Kemudian umat Islam telah diperintahkan untuk melakukan hijrah ke Habsyah ataupun Ethiopia sekarang. Pada awalnya hanya 15 orang sahaja yang menyertai hijrah ini. Tempat itu dipilih kerana pemerintahnya menganut agama samawi iaitu Nasrani. Sekurang-kurangnya beliau dapat memahami ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. Penghijrahan ini tidak disertai oleh baginda Rasulullah saw sebaliknya hanya dihantar beberapa orang delegasi termasuklah Jaafar b Abu Talib dan diketuai oleh Uthman b Makhzun ke Habsyah.
Sebahagian mereka diarahkan berhijrah ke Habsyah (sekarang Ethopia).pelbagai peristiwa silih berganti berlaku Selepas itu Quraisy berusaha pula untuk membawa balik sahabat-sahabat Rasulullah Saw yang berhijrah ke Habsyah. Mereka menghantar dua orang wakil kepada Najasyi iaitu Abdullah bin Abi Rabea'h dan A'mru bin A’sh. Mereka membawa barang-barang yang diperbuat dari kulit kerana itulah hadiah yang paling disukai oleh Najasyi.
Mereka juga telah menyiapkan hadiah untuk penasihat-penasihat Najashi. Sebelum mereka mengadap Najashi mereka terlebih dahulu memberi sogokan kepada penasihat-penasihat Najashi dengan hadiah-hadiah yang mereka bawa. Mereka membisikkan tujuan mereka kepada penasihat-penasihat Najasyi. Mereka datang untuk membawa balik kaum mereka yang melarikan diri ke Habsyah. Jumlah umat Islam yang berhijrah ke habsyah sudah meningkat 100 orang. Kata mereka, "Orang-orang yang melarikan diri ini telah menolak agama kami dan juga menolak agama kamu. Oleh itu kami ingin meminta Najasyi menyerahkan kembali mereka semua kepada kami untuk kami bawa mereka pulang ke Mekah."
Selepas itu barulah Abdullah dan A'mru bertemu dengan Najasyi. Mereka mempersembahkan hadiah-hadiah yang dibawa kepada Najashi. Ini membuatkan Najasyi gembira menerima kunjungan mereka. Setelah itu barulah mereka menerangkan tujuan kedatangan mereka kepada Najasyi. Kata Najasyi: "Setelah aku mendengar dari pihak kamu, aku mesti juga mendengar dari pihak mereka iaitu orang- orang Islam." Najasyi memanggil semua orang Islam yang berada di Habsyah hadir ke istananya.
Mereka semua pun datang mengadap Najasyi diketuai oleh Saidina Ja’afar bin Abu Talib. Najashi bertanya kepada mereka, "Apa sebenarnya cerita kamu? Apa agama baru yang kamu bawa itu?" Maka jawab Saidina Ja’afar, "Dulu kami menyembah berhala, kami memakan binatang yang tidak disembelih, kami melakukan maksiat, kami bersengketa sesama sendiri, kami memutuskan silaturrahim dan kami menyakiti orang lain. Selepas itu datang kepada kami seorang lelaki dari kaum kami. Dia orang yang paling mulia di kalangan kami membawa agama dari Allah, Tuhan sekalian alam. Dia mengajak kami menyembah Allah yang Maha Esa dan mengajak kami meninggalkan berhala dari batu-batu yang tidak boleh memberi manafaat atau mudharat itu. Dia mengajak kami supaya berkasih sayang dan berakhlak mulia. Dia mengajak kami meninggalkan maksiat dan dosa."
Saidina Ja’afar telah berjaya menerangkan Islam secara ringkas tetapi jelas kepada Najasyi bahawa amalan Islam itu semuanya amalan yang mulia dan terpuji. Najasyi senang hati dan gembira mendengar penerangan dari sepupu Rasulullah saw ini. Najasyi bertanya lagi, "Apakah ada pada kamu apa-apa yang dibawa oleh lelaki itu?"
Saidina Ja'afar membacakan ayat-ayat Al-Quran kepada Najasyi yang menceritakan tentang Nabi Yahya dan Nabi Zakaria dari Surah Maryam. Setelah Saidina Ja'afar selesai membacanya, Najasyi berkata: "Demi Allah! risalah ini dan apa yang dibawa oleh Nabi Isa adalah dari sumber yang satu."
Najasyi sangat terkesan dengan ayat-ayat ini. Dia mendapati apa yang dibawa oleh Al-Quran sama dengan apa yang ada padanya. Najasyi ini juga seorang Ulamak dalam agama Nasrani. Najasyi memerintahkan agar dibenarkan orang orang Islam terus tinggal di bawah pemerintahannya di Habsyah. Kata Najasyi kepada orang-orang Islam, "Aku sekali-kali tidak akan menyerahkan kamu kepada musuh-musuh kamu."
Maka Abdullah dan A'mru bin Ash terpaksalah meninggalkan istana Najasyi bersama dengan tangan yang kosong dengan perasaan malu dan kecewa. Namun A'mru bin Ash ini yang terkenal dengan kecerdikan dan kelicikannya dalam diplomasi telah berpatah balik meminta izin untuk mengadap Najasyi semula. A'mru berkata kepada Najasyi, "Wahai Najashi, orang-orang yang kamu lindungi ini menghina Nabi Isa dan mereka mengatakan terhadap Nabi Isa perkataan yang kamu pasti tidak boleh menerimanya. Maksudnya orang Islam tidak mengatakan bahawa Nabi Isa itu anak Tuhan." Najashi bertanya: "Apa yang mereka katakan itu?" Kata Amru, "Tuanku tanyalah mereka sendiri."
Najashi mengarahkan supaya dipanggil semula orang-orang Islam. Najashi bertanya mereka: "Apa yang kamu katakan tentang I'sa bin Maryam?" Saidina Ja'afar menjawab soalan Najashi ini dengan membaca ayat-ayat Al- Quran berikut:
واذكر في كتاب مريم إذإنتبذت من أهلها مكانا شرقيا فاتخذت من دونهم حجابا فأرسلنا إليها روحنا فتمثل لها بشرا سويا, قالت إني أعوذ بالرحمن منك إن كنت تقيا, قال إنما أنا رسول ربك لأهب لك غلاما زكيا, قٌالت أنى يكون لي غلام ولم يمسسني بشر ولم أك بغيا, قال كذلك قال ربك هو علي هين ولنجعلك أية للناس ورحمة منا وكان أمرا مقضيا….... ذلك عيس ابن مريم قول الحق الذي فيه يمترون, ما كان لله أن يتخذ ولدا سبحانه, إذا قضى أمرا فإنما يقول له كن فيكون
Terjemahannya : Dan bacakanlah (wahai Muhammad) di dalam Kitab Al-Quran ini perihal Maryam, tatkala ia memencilkan diri dari keluarganya di sebuah tempat sebelah timur. Kemudian Maryam membuat dinding untuk melindungi dirinya dari mereka, maka Kami hantarkan kepadanya Ruh dari Kami, lalu ia menjelma kepadanya sebagai seorang lelaki yang sempurna bentuk kejadiannya. Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung kepada (Allah) Ar-Rahman daripada (gangguan) mu kalau kamu seorang yang bertakwa. Dia berkata: "Sesungguhnya aku pesuruh Tuhanmu, untuk menyampaikan khabar bahawa kamu akan dikurniakan seorang anak yang suci. Maryam bertanya (dengan cemas): "Bagaimanakah aku akan memperoleh seorang anak lelaki padahal aku tidak pernah disentuh oleh seorang lelakipun dan aku pula bukanlah perempuan yang jahat. Dia menjawab: "Demikianlah keadaannya, tak usahlah dihairankan. Tuhanmu berfirman: "Hal itu mudah bagiKu dan Kami hendak menjadikan pemberian anak itu sebagai suatu tanda (yang membuktikan kekuasaan Kami) untuk umat manusia dan sebagai satu rahmat dari Kami, dan hal itu adalah satu perkara yang telah ditetapkan berlakunya."……………….Yang demikian sifat-sifatnya itulah 'Isa bin Maryam. Keterangan yang tersebut ialah keterangan yang sebenar-benarnya, yang mereka ragu dan berselisih padanya. Tiadalah layak bagi Allah mempunyai anak. Maha Sucilah Dia. Apabila Dia menetapkan jadinya sesuatu perkara, maka hanya Dia berfirman kepadanya: "Jadilah engkau", lalu menjadilah ia." (Maryam: 16-35
Apabila Saidina Ja'afar selesai membaca ayat-ayat itu, Najasyi terus bertakbir. Najashi telah membenarkan apa yang diperkatakan oleh Al-Quran tentang Nabi Isa as. Terkejutlah para penasihat Najasyi dari kalangan pendita Nasrani kerana mereka meyakini bahawa Nabi Isa adalah anak Tuhan. Najasyi berNajasyi melepaskan semula orang-orang Islam dan selepas itu Najasyi selalu memanggil Saidina Ja'afar mengajarnya tentang Islam. Akhirnya Najasyi beriman kepada Rasulullah saw tetapi dia telah merahsiakan keislamannya.
Para penasihatnya yang merupakan ulamak-ulamak Nasrani yang tidak senang dengan pendirian Najasyi terhadap Nabi Isa telah berjaya mengumpulkan kekuatan untuk menggulingkan Najasyi. Berlakulah peperangan diantara tentera Najasyi dan pemberontak-pemberontak ini. Peperangan ini berlaku berdekatan dengan sebuah sungai, dikatakan sungai itu adalah sungai Nil. Orang-orang Islam tinggal diseberang sungai. Dari jauh mereka dapat melihat peperangan itu tetapi mereka tidak mengetahui siapakah yang menang.
Mereka telah menghantar Saidina Zubair bin A'wam menyeberang sungai untuk memerhati peperangan itu. Sekiranya Najasyi menang selamatlah orang Islam di Habsyah tetapi sekiranya Najasyi kalah, orang-orang Islam di Habsyah akan menghadapi masalah. Alhamdulillah Najasyi telah menang dalam peperangan itu. Para Sahabat turut bergembira dan bersyukur di atas kemenangan ini.
Najasyi telah istiqamah berpegang dengan agama Islam sehinggalah dia meninggal dunia. Ketika Najasyi meninggal dunia, Jibril telah datang memberitahu Rasululah saw. Lalu Rasulullah saw dan para sahabat melakukan sembahyang ghaib kepada Najasyi. Imam Bukhari ada meriwayatkan satu hadis dari Saidina Jabir. Sabda Rasulullah saw pada hari kematian Najasyi : ( ( مات اليوم رجل صالح فقوموا فصلوا على أخيكم أصحمة. Terjemahannya, "Telah meninggal dunia pada hari ini seorang lelaki yang soleh maka bangunlah dan sembahyanglah ke atas saudara kamu Ashamah (namanya Ashamah)."
Setelah itulah berlakunya peristiwa Israk dan Mikraj. Ia adalah satu peristiwa besar dalam sejarah hidup Rasululah saw dan dalam sejarah umat Islam. Menurut Imam Nawawi, peristiwa Isra' dan Mikraj berlaku pada bulan Rejab tahun keduabelas selepas kenabian.
bersambung...
rujukan
Tuesday, May 13, 2014
Saturday, March 15, 2014
Monday, November 18, 2013
Monday, May 20, 2013
Dialog Atheis dengan Seorang Pemuda
Semua yang ada di dalam majlis ketika itu terkejut dengan keberanian pemuda ini. Maka bermulalah perdebatan di antara mereka. Bila mana pemuda ini duduk duduk pada tempat yang disediakan maka serentak dengan itu salah seorang Atheis terus mengajukan soalan:
Soalan Pertama
Atheis: “Pada zaman bilakah Tuhan kamu dilahirkan?” Pemuda tersebut tersenyum lalu menjawab: “Allah Taala tidaklah sesuatu yang dilahirkan. Jika Dia dilahirkan sudah tentu Dia punya bapa, Allah juga tidak melahirkan. Jika Dia melahirkan maka sudah tentu Dia punya anak.”
Soalan Kedua
Atheis: “Kalau begitu, bilakah pula Tuhan kamu wujud?”
Pemuda itu seraya menjawab: “Allah Taala itu wujud sebelum adanya zaman, sedangkan zaman itu sendiri adalah ciptaanNya, mana mungkin pencipta wujud selepas makhluk ciptaanNya.”
Soalan Ketiga
Atheis: “Cuba kamu berikan kepada kami sedikit gambaran tentang kewujudan Tuhan kamu yang tiada permulaan ini. Bagaimana mungkin sesuatu itu ada tanpa ada permulaannya?”
Pemuda itu menjawab: “Kamu pandai mengira?”
Kelompok Atheis itu menjawab: “Tentu sekali kami pandai mengira.”
Pemuda itu meneruskan ucapannya: “Bolehkah kamu beritahu aku apakah nombor sebelum nombor empat (4)?”
Atheis: “Nombor 3″
Pemuda: “Nombor sebelum 3?”
Atheis: “Nombor 2″
Pemuda: “Nombor sebelum 2?”
Atheis: “Nombor 1″
Pemuda: “Nombor sebelum 1?”
Atheis: “Tiada”
Pemuda itu tersenyum lalu memberikan penerangan: “Nah, kamu sendiri mengakui bahawa nombor 1 sebelumnya tiada mulanya. Nombor yang merupakan ciptaan Allah ini sendiri kamu akui bahawa tiada permulaan baginya. Apatah lagi pencipta kepada nombor itu sendiri?”
Terpinga-pinga kelompok Atheis tersebut dengan jawapan yang padat dan bernas daripada pemuda itu. Ternyata mereka silap perkiraan bila mana berhadapan dengan anak muda ini. Pada mulanya mereka merasakan bahawa anak muda ini mudah dikalahkan, namun telahan mereka ternyata menyeleweng. Mereka perlu lebih berhati-hati.Soalan Keempat
Atheis: “Tahniah anak muda di atas jawapanmu sebentar tadi. Jangan sangka kamu berada di dalam keadaan yang selesa. Baik, tolong kamu terangkan kepada kami, pada bahagian manakah Tuhan kamu mengadap?”
Pemuda itu menjawab: “Jika aku bawa sebuah pelita yang dicucuh dengan api ke sebuah tempat yang gelap, pada arah manakah cahaya pada api tersebut mengadap?”
Kelompok Atheis menjawab: “Cahaya itu tentulah akan menerangi keseluruhan arah.” Pemuda itu berkata: “Jika cahaya yang diciptakanNya itu pun kamu semua tidak mampu menerangkan pada arah manakah ia mengadap, inikan pula Sang Pemilik Cahaya langit dan bumi ini sendiri?”
Kesemua hadirin yang mendengar jawapan daripada pemuda itu bersorak kegembiraan. Kagum mereka dengan kepetahan anak muda itu.Soalan Kelima
Atheis: “Bolehkah kamu terangkan kepada kami, bagaimana zat Tuhan kamu? Adakah ianya keras seperti besi? Atau jenis yang mengalir lembut seperti air? Atau ianya jenis seperti debu dan asap?”
Pemuda itu sekali lagi tersenyum. Beliau menarik nafas panjang lalu menghelanya perlahan-lahan. Lucu sekali mendengar persoalan kelompok Atheis ini. Orang ramai tertunggu-tunggu penuh debaran apakah jawapan yang akan diberikan oleh pemuda itu. Pemuda itu menjawab: “Kamu semua tentu pernah duduk disebelah orang yang sakit hampir mati bukan?”Atheis menjawab: “Tentu sekali.”
Pemuda itu meneruskan: “Bila mana orang sakit tadi mati, bolehkah kamu bercakap dengannya?”Atheis menjawab: “Bagaimana mungkin kami bercakap dengan seseorang yang telah mati?”Pemuda itu meneruskan: “Sebelum dia mati kamu boleh bercakap-cakap dengannya, namun selepas dia mati, terus jasadnya tidak bergerak dan tidak boleh bercakap lagi. Apa yang terjadi sebenarnya?”
Kelompok Atheis tertawa lalu memberikan jawapan: “Adakah soalan seperti ini kamu tanyakan kepada kami wahai anak muda? Tentu sekali seseorang yang mati itu tidak boleh bercakap dan bergerak . Ini kerana rohnya telah terpisah daripada jasadnya.”
Pemuda itu tersenyum mendengar jawapan mereka lalu berkata: “Baik, kamu mengatakan bahawa rohnya telah terpisah daripada jasadnya bukan? Bolehkah kamu sifatkan kepada aku sekarang, bagaimanakah bentuk roh tersebut. Adakah ianya keras seperti besi, atau ianya mengalir lembut seperti air atau ianya seperti asap dan debu yang berterbangan?”
Tertunduk kesemua Atheis tersebut bila mana mendengar persoalan pemuda bijak tersebut. Ternyata olokan mereka sebentar tadi kembali tertimpa ke atas mereka. Kelompok Atheis menjawab dengan keadaan penuh malu: “Maaf, tentu sekali kami tidak dapat mengetahui bagaimana bentuknya.”
Pemuda itu lalu meneruskan bicaranya: “Jika makhluknya seperti roh itu pun kamu tidak mampu untuk menerangkannya kepada aku, bagaimana mungkin kamu ingin menyuruh aku menerangkan bagaimana bentuk Tuhan Pemilik Roh serta sekalian alam ini?”Soalan Keenam
Atheis: “Di manakah Tuhan kamu duduk sekarang?”
Pemuda itu kembali bertanyakan soalan kepada mereka: “Jika kamu membancuh susu, tentu sekali kamu mengetahui bahawa di dalam susu tersebut ada terdapat lemak bukan? Bolehkah kamu terangkan kepada saya, dimanakah tempatnya lemak tersebut berada?”
Kelompok Atheis menjawab: “Kami tidak dapat menerangkan kepadamu dengan tepat kedudukan lemak di dalam susu tersebut. Ini kerana lemak itu mengambil keseluruhan bahagian susu tersebut.” Pemuda itu seraya berkata: “Kamu sendiri lemah di dalam memberikan jawapan terhadap persoalan aku sebentar tadi. Jika lemak di dalam susu pun tiada tempat yang khusus baginya, masakan pula kamu ingin mengatakan bahawa Tuhan Pemilik Arasy itu ada tempat duduk khusus bagiNya? Sungguh aku pelik dengan persoalan-persoalan kamu ini.”Soalan Ketujuh
Atheis: “Kami pelik bagaimana jika masuk ke dalam syurga ada permulaannya (iaitu selepas dihisab oleh Allah Taala di padang Mahsyar) namun bila mana sudah berada di dalamnya maka tiada lagi pengakhirannya (maksudnya tiada kesudahannya dan akan selama-lamanya di dalam syurga)?”
Pemuda itu tersenyum lagi lalu menjawab: “Mengapa kamu pelik dengan perkara tersebut. Cuba kamu lihat pada nombor. Ianya bermula dengan nombor satu bukan? Namun bolehkah kamu terangkan kepada aku apakah nombor yang terakhir di dalam senarai nombor?” Terkelu kelompok Atheis ini untuk memberikan jawapan. Tentu sekali nombor tiada kesudahannya.
Pemuda itu tersenyum melihat kelompok Atheis ini terkebil-kebil tidak mampu memberikan jawapan. Kemudian beliau menyambung bicaranya: “Nah, kamu sendiri tidak mampu untuk menerangkan kepadaku apakah nombor terakhir bukan? Jawapannya sudah tersedia di hadapan mata kepala kamu.”Soalan Kelapan
Atheis: “Kami ingin bertanya lagi, bagaimana mungkin seseorang di dalam syurga menurut Nabi kamu tidak akan kencing dan berak. Sedangkan mereka juga makan dan minum? Ini adalah perkara yang tidak masuk akal.”
Pemuda itu tenang membetulkan kedudukannya. Lalu beliau menjawab: “Aku dan kamu sebelumnya pernah berada di dalam perut ibu sebelum dilahirkan bukan? Sembilan bulan di dalam perut ibu, kita juga makan daripada hasil darah ibu kita. Persoalanku, adakah kamu buang air kecil dan besar di dalam perut ibumu? Sedangkan kamu juga makan di dalamnya?” Sekali lagi kelompok ini terdiam membisu seribu bahasa. Padat sekali jawapan anak muda ini.Soalan Kesembilan
Ia soalan terakhir yang ditanyakan oleh kelompok Atheis tersebut kepada pemuda itu bila mana mereka telah mati kutu dan sudah terlampau malu ialah berkenaan: “Jika kamu terlalu bijak , apakah yang dilakukan oleh Tuhanmu sekarang?”
Maka pemuda itu menjawab dengan tenang: “Sebelum aku memberikan jawapan kepadamu, eloklah kiranya kita bertukar tempat. Ini kerana kamu berada pada tempat yang tinggi sedang aku berada di bawah.Jawapan hanya boleh diberikan bila mana aku berada di atas mengambil alih tempatmu.”Kelompok Athies itu lalu bersetuju dengan cadangan pemuda tersebut, lalu mereka bertukar tempat. Pemuda itu naik ke atas, manakala sang Atheis turun ke bawah.
Bila mana pemuda itu sudah berada di atas, terus beliau menjawab: “Kamu bertanya sebentar tadi apakah yang Tuhanku lakukan sekarang bukan? Jawapannya ialah, Tuhanku sedang meninggikan yang Haq (dengan menaikkan pemuda itu ke atas) dan menurunkan yang Batil (dengan menurunkan kelompok Atheis tersebut ke bawah).”Akhirnya mereka mengakui bahawa tiada lagi persoalan yang ingin ditanyakan malah kesemuanya telah dipatahkan oleh pemuda itu dengan penuh hikmah.
Walau sudah hampir ribuan tahun pemuda itu meninggalkan kita, namun namanya disebut orang seolah-olah beliau masih hidup di sisi kita. Al-Fatihah buat al-Imam al-A’dzam Abu Hanifah Nu’man bin Thaabit r.a serta kepada seluruh gurunya dan kesemua muslimin dan muslimat sama ada yang amsih hidup atau yang telah wafat.Baca Seterusnya: http://meeudangpenang.blogspot.com/2013/05/kisah-menarik-dialog-pemuda-dengan.html#ixzz2TqHcp3dc



